Pemprov Bali Klaim Pengurangan Penggunaan Plastik dan Styrofoam Satu Kali Pakai Capai 57 Persen

- 21 Juni 2021, 14:55 WIB
Ilustrasi botol plastik | Mali Maeder/Pexels
Ilustrasi botol plastik | Mali Maeder/Pexels /

JURNAL GARUT - Pemerintah Provinis (Pemprov) Bali mengklaim berhasil menakan penggunaan plastik dan styrofoam mapun keresek satu kali pakai sudah berkurang.

Hal ini disampaikan dalam laporan hasil Monitoring dan Evaluasi (Monev) Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 97 Tahun 2018 terkait pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai menunjukkan adanya pengurangan penggunaan kantong kresek, sedotan dan styrofoam dalam dua tahun terakhir.

Menggunakan metode random sampling, survei perubahan perilaku masyarakat pada 1605 kepala keluarga (KK) di 9 kabupaten/kota memperlihatkan adanya perubahan perilaku berupa penurunan konsumsi kresek sebesar 57 persen, sedotan 81 persen, dan styrofoam 70 persen.

Baca Juga: Ulang Tahun Jokowi, Ini Biografi Presiden Ke-7 Republik Indonesia dari Keluarga hingga Karir

“Pergub ini telah menunjukkan bahwa suatu kebijakan sangat memungkinkan untuk mengubah perilaku. Terbukti dari hasil monitoring dan evaluasi yang kami lakukan bahwa ada penurunan penggunaan kresek, sedotan dan styrofoam dari konsumsi yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari,” ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Teja dalam Lokakarya hasil Monev (Pergub) Bali No. 97/2018 melalu keterangan resmi yang diterima Jurnal Garut, Senin 21 Juni 2021.

Meski demikian, I Made Teja menjelaskan masih terdapat penggunaan plastik sekali pakai yang cukup banyak di pasar tradisional.

Tak hanya itu, masih ada tantangan berupa perilaku belanja online yang belum tercakup dalam studi, serta maraknya penggunaan kantong sekali pakai yang mengaku ramah lingkungan dan mudah terurai. Padahal, hasil penelitian menunjukkan bahwa penguraian tersebut tidak terjadi secara alamiah.

“Kedepannya, kami akan memperluas edukasi pengurangan plastik sekali pakai ke sekolah-sekolah dan kampanye di pasar tradisional," jelasnya.

Baca Juga: 21 Juni Dalam Sejarah, Sang Proklamator Wafat dan Presiden Ke-7 Lahir

Sementara itu, Kopernik selaku narasumber yang turut hadir dalam lokakarya tersebut menyebutkan bahwa ada potensi besar bagi Bali untuk membangkitkan kembali kearifan lokal berupa tas dan wadah yang terbuat dari bahan-bahan tradisional seperti bambu, kelapa dan daun pisang yang sudah lama digunakan oleh masyarakat Bali. Hal ini tentunya bisa dimanfaatkan untuk menggantikan wadah sekali pakai yang biasanya digunakan oleh masyarakat.

Halaman:

Editor: Muhammad Nur

Sumber: Jurnal Garut


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X