Peternak Ayam Menjerit, Wabah Covid-19 Lebih Parah Dibanding Flu Burung

- 2 Juni 2020, 08:45 WIB
Pedagang ayam broiler hidup milik Nur Yulianto warga Bojongjati Desa Pananjung masih menunggu kiriman ayamnya dari peternak, Minggu, (18/4/2020).

JURNAL GARUT - Peternak ayam mengalami kesulitan untuk mendapatkan ayam umur sehari (DOC). Munculnya wabah Covid-19 semakin menambah terpuruk usaha peternakan ayam.

Selain langka, harga ayam umur sehari juga mahal. Sebagian besar anak ayam berumur kurang dari 10 hari dibudidaya oleh pihak integrator atau produsen bibit dan pakan ayam. Sedangkan yang keluar atau dijual hanya sebagian kecil.

Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Herry Dermawan, menuturkan, harga ayam saat ini mulai mengalami kenaikan. Namun para peternak tak mampu meraup untung karena sulitnya mendapat DOC.

Baca Juga: Sapi dan Kerbau Rusak Kebun Jagung, Petani Rugi Ratusan Juta Rupiah

"Selain harganya mahal, barang juga tidak ada. Akibatnya 95 persen peternak tidak memasukkan bibit ke dalam kandang," ujar Herry, Senin 1 Juni 2020.

Menurut Herry, kebutuhan bibit ayam umur sehari atau DOC mencapai 70 juta ekor per minggu. Namun saat ini produksinya hanya mencapai 40 juta. Seperti dikutip dari Pikiran-Rakyat.com berjudul "Bagi Peternak Ayam Dampak Covid-19 Lebih Berat dari Krisis Moneter dan Wabah Flu Burung".

“Sebelumnya, awal bulan puasa harga DOC sekira Rp 4.000 akan tetapi saat ini naik menjadi Rp 8.000. Yang menjadi dilema adalah harga sudah mahal, barangnya juga tidak ada. Di satu sisi peternak ingin bangkit, akan tetapi di sisi lain harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan seperti itu,” ujarnya.

Baca Juga: Penjualan Mobil Merosot, Nissan Tutup Pabrik di Indonesia

Tidak hanya menguasai DOC untuk budidaya sendiri, tambahnya, pihak integrator juga mulai merambah pasar becek, atau pasar tradisional.

Halaman:

Editor: Fariz Akbar

Sumber: Pikiran Rakyat


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X