Laporan Komnas HAM, Mahfud Sebut Seumpamanya Aparat Tidak Dipancing, Tidak Akan Terjadi

- 14 Januari 2021, 17:03 WIB
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD kembali menyampaikan bahwa penembakan terhadap laskar FPI bermula dari provokasi terhadap aparat. //ANTARA/HO-Human Kemenko Polhukam/am/ANTARA

JURNAL GARUT - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD mengumumkan hasil investigasi Komnas HAM pada Kamis, 14 Januari 2021.

Ia menyebutkan jika isi laporan Komnas HAM terkait terjadinya baku tembak karena adanya provokasi dari laskar, yakni sebuah komando untuk menabrak kendaraan polisi.

"Laporan Komnas HAM, seumpama aparat tidak dipancing, tidak akan terjadi. Karena Habib Rizieq-nya jauh. Tapi ada komando tunggu aja di situ, bawa putar putar, pepet, tabrak dan sebagainya. Komando suara rekamannya," katanya seperti di kutip dari Antara.

Baca Juga: Suasana Pemakaman Syekh Ali Jabar di Ponpes Darul Quran, Serta Link Live Streaming TVOne

Tidak hanya itu, Mahfud pun meyebutkan bahwa anggota laskar FPI juga membawa senjata api dan senjata rakitan.

"Ada kelompok sipil yang membawa senjata api, senjata rakitan, dan senjata tajam yang dilarang undang-undang. Itu sudah ada gambarnya semua," kata Mahfud

Mahfud pun memastikan jika laporan Komnas HAM tersebut tidak ada yang ditutup-tutupi, dan nanti akan dibuka dalam persidangan.

Baca Juga: Terjawab Sudah, Ponpes Darul Quran dipilih Jadi Tempat Pemakaman Syekh Ali Jaber

Sementara itu, Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menyatakan bahwa peristiwa tewasnya 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) di KM 50 tol Cikampek bukan pelanggaran HAM berat.

Menurut dia, indikator pelanggaran HAM berat misalnya, satu perintah yang terstruktur, terkomando, termasuk juga indikator isi, ruangan, kejadian, dan lain-lain.

Namun, kata dia, peristiwa tewasnya enam laskar FPI ini merupakan pelanggaran HAM karena ada nyawa yang hilang.

Halaman:

Editor: Muhammad Nur

Sumber: ANTARA


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X